Penerjemahan puisi

Akankah kita memulai sebuah hutan?
(Terjemahan dari: Zullen we een bos beginnen?)

Galilah sebuah lubang
dan tanam pohon milikmu
dengan hati-hati
di sebelah pohonku.

Dan mereka akan saling melindungi
dari angin kencang
jika badai datang
atau duduk bersama dalam diam
menikmati pancaran matahari minggu pagi.

Jika malam tiba
mereka akan saling memandang
lewat bulu mata
ranting-ranting mereka
yang mulai kelihatan
seperti sebuah hutan.

Dua butir air mata (Twee tranen)

Kadang ibuku menangis
dua butir air mata menitik begitu saja
dan di atas tangga itu, aku menunggu
sampai dia memandangku,

dan kemudian menciumku.

Air mata tidak harus dipahami,
kadang dia hadir begitu saja
bisiknya,
dan kedua butir ini adalah untukmu.

Ini adalah terjemahanku dari dua buah puisi yang ada dalam kumpulan puisi berbahasa Belanda dari Jaap Robben. Lewat kata-kata yang sederhana, puisi-puisi ini justru begitu menyentuh jiwa. Dalam puisi-puisi ini aku menemukan bagaimana anak-anak memandang dunia; tanpa prasangka, penuh rasa ingin tahu dan kekaguman. Hal-hal yang seringkali menghilang ketika mereka dewasa. Buat anak-anak, dunia adalah rimba penuh dengan keajaiban-keajaiban dari hal-hal kecil di seputar kehidupan. Manis sekali membaca kepolosan jiwa anak-anak dalam puisi-puisi ini.