Anak laki-laki dengan pena

  • Judul : De jongen met de vulpen
  • Pengarang : Ineke Mahieu
  • ISBN : 978-90-475-1936-2
  • Penerbit : Van Wolkema & Warendorf (Houten – Nederland)
  • Tahun perilisan pertama : 2011
  • Tebal : 158 halaman

Anak laki-laki dengan pena adalah sebuah novel sejarah yang bercerita tentang Pijke, seorang anak lelaki cerdas berumur 11 tahun yang hidup di akhir abad ke-19 (sekitar tahun 1874). Pijke tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana bersama ibu dan ayah tirinya di desa. Rumahnya yang remang-remang punya satu kamar sempit, sebuah meja dan tempat tidur. Ibunya menabung untuk bisa menyekolahkan Pijke supaya dia bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik. Hanya malangnya, ibunya keburu meninggal karena penyakit TBC.

Setelah ibunya meninggal, Pijke dikirim ayah tirinya ke Den Haag. Menurut ayah tirinya, dia bakal tinggal di rumah seorang ‘profesor’ yang punya kantor penuh dengan buku-buku tebal. ‘Profesor’ ini akan membimbingnya belajar. Penuh harapan indah Pijke pergi ke Den Haag. Sayangnya, setibanya di sana, bukannya di kantor tapi dia mesti jadi buruh di pelintingan cerutu milik tuan Emmerdeur. Ayah tirinya punya hutang banyak pada tuan Emmerdeur dan Pijke harus bekerja keras di situ buat melunasi hutang.

Pijke dan anak-anak yang bekerja di situ diperlakukan dengan semena-mena oleh tuan Emmerdeur. Meskipun demikian, Pijke tidak melupakan impiannya untuk bisa bersekolah seperti anak-anak HBS (Sekolah Tinggi untuk Rakyat) yang ditemuinya ketika dia berjalan-jalan di waktu luangnya. Suatu hari, Pijke berhasil melarikan diri dari tuan Emmerdeur. Lepas dari tuan Emmerdeur hidup Pijke tetap sulit. Dia terpaksa bekerja apa saja untuk bertahan hidup. Bahkan pernah suatu kali dia harus mencopet untuk bisa makan.

Setelah melewati berbagai macam kesulitan, akhirnya Pijke dipertemukan dengan tuan Van Houten dan Sientje Mesdag yang tinggal di rumah megah dengan kamar-kamar luas berkarpet tebal dan lemari besar penuh buku.

Cerita dalam buku ini sebagian besar didasarkan kisah nyata yang terjadi di masa itu. Keluarga Van Houten dan Sientje Mesdag bukanlah fiktif. Sientje Mestdag adalah istri dari seniman Hendrik Willem Mestdag yang membuat ”Panorama Mestdag” di Den Haag, juga Undang-Undang Van Houten yang berisi larangan untuk memperkerjakan anak sebagai buruh. Menarik untuk menengok kehidupan anak-anak di masa itu dan memahami betapa beruntungnya anak-anak sekarang tidak perlu lagi mengalami nasib seperti Pijke.