Ketika ayahku menjadi semak-semak

  • Judul : Toen mijn vader een struik werd
  • Pengarang/Ilustrator : Joke van Leeuwen
  • ISBN : 979-90-451-1084-4
  • Penerbit : Querido (Amsterdam – Nederland)
  • Tahun perilisan pertama : 2010
  • Tebal : 104 halaman
  • Usia : 10 tahun ke atas

Bagaimana jika perang saudara terjadi di negeri kita dan kita mesti mengungsi? Pergi ke negeri asing dengan bahasa dan kebiasaan yang tidak kita kenal? Berkaitan dengan tema ini, Joke van Leeuwen menulis buku berjudul “Toen mijn vader een struik werd” (Ketika ayahku menjadi semak-semak) di tahun 2010.

Toda mula-mula tinggal bersama ayahnya, seorang tukang roti yang membuat 20 macam roti. Ketika perang pecah antara ‘kubu yang satu’ dengan ‘kubu yang lainnya’, ayahnya menjadi serdadu karena dia harus membela ‘kubu yang satu’ untuk melawan ‘kubu yang lainnya’. Sesuatu yang tidak dimengerti Toda karena di ‘kubu yang lainnya’ sebetulnya juga ada teman-teman mereka. Sebelum berangkat ke medan perang, ayahnya memperlihatkan kepadanya ‘Buku Panduan Serdadu’. Di sana dijelaskan salah satunya cara serdadu untuk berkamuflasi, seperti misalnya dengan menyamar sebagai semak-semak.  Dan sejak itu dalam anggapan Toda, ayahnya berubah menjadi semak-semak.

Setelah kepergian ayahnya, Toda dirawat oleh neneknya sampai dia sendiri akhirnya harus pergi mengungsi karena perang menjalar mendekati tempat tinggal mereka. Neneknya tidak ikut pergi karena dia harus menjaga rumah mereka. Demi keselamatannya, Toda harus pergi ke tempat ibunya di negeri tetangga. Ibunya sudah lama menetap di negeri itu karena dia dulu ‘tidak tahan menghadapi situasi’.  Situasi macam apa, Toda tidak tahu dan dia juga tidak pernah bertanya.

Perjalanan Toda dalam pengungsian itu penuh dengan bahaya dan kejadian yang tak terduga: sopir yang membawanya ke luar negeri meminta tambahan uang dan seorang pensiunan jendral ingin mengadopsinya. Dia juga bertemu dengan seorang komandan yang melakukan desersi – karena terlalu lemah untuk bisa memberikan komando, dan kemudian ditangkap musuh di depan matanya. Tapi, yang paling parah adalah ketika Toda kehilangan alamat ibunya dan tidak tahu alamat yang harus ditujunya. Kejadian-kejadian itu membuatnya hampir kehilangan harapan, bahkan ketika Toda akhirnya tiba di negeri tempat ibunya tinggal.

Meski mengupas tema yang berat, kenaifan Toda membuat cerita ini menjadi ringan. Cara Toda menceritakan kejadian-kejadian yang dialaminya bukan hanya menyentuh tapi seringkali begitu menohok dan sesekali juga membuat kita tersenyum.

Petualangan Toda mencari keselamatan di negeri asing yang penuh ketegangan ini,  bisa memberikan gambaran tentang hal-hal yang harus dihadapi oleh seorang anak yang dipaksa mengungsi: perpisahan dengan orang-orang yang dicintainya, meninggalkan rumah dan lingkungan yang diakrabinya, ancaman dari orang-orang bermaksud buruk yang memanfaatkan situasi untuk memperkaya diri dan kesepian yang kerap menyapa. Belum lagi sambutan dingin di negeri barunya. Buku yang berisi observasi Toda ini dipenuhi oleh hal-hal detail yang bakal tidak terlalu asing buat kita.

Kamuflasi adalah cara untuk membuat supaya kamu tidak bisa dikenali, kata Toda di awal cerita. Tidak dikenali itu bermula dengan nama. Toda sebetulnya bukanlah namanya yang sebenarnya. Namanya punya empat huruf k yang tidak bisa diucapkan oleh penduduk di negeri barunya sehingga harus disingkat menjadi Toda, empat huruf terakhir dari namanya.

“Kamu bisa berguna buat negeri ini?” Pertanyaan pertama yang didapat Toda ketika dia sampai di negeri barunya. “Aku bisa bikin kue,” jawabnya. Sebagai pembaca kita berharap, moga-moga jawaban itu cukup buat Toda untuk bisa mendapatkan hidup aman dan bebas dari ketakutan.